Friday, February 21, 2014

Akhirnya Investor Smartphone di Indonesia

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berhasil menarik investor asing Foxconn untuk menanam modalnya di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar di dunia yang diminati oleh pembuat smartphone. Sebuah terobosan penting dengan cara unik a la seorang Jokowi. Kapan pembuat gadget lainnya menyusul? Beritanya bisa disimak di bawah ini:


Ini Cara Jokowi Bisa Tarik Foxconn Mau Bangun Pabrik BlackBerry di Jakarta

Rista Rama Dhany - detikfinance
Jumat, 21/02/2014 12:13 WIB

Jakarta -Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) punya cara sederhana untuk bisa menarik investor 'kakap' Foxconn membangun pabrik smartphone di Jakarta. Foxconn akhirnya berkomitmen menggelontorkan investasi sebesar US$ 1 miliar atau kurang lebih Rp 10 triliun.

Jokowi menceritakan saat pembicaraan awal pada tahun lalu, perusahaan asal Taiwan tersebut meminta lahan untuk membangun pabrik smartphone seperti BlackBerry. Tanpa berpanjang lebar, Jokowi langsung menyanggupinya sehingga Foxconn langsung bersedia menandatangan LoI dengan Pemda DKI Jakarta.

"Untuk masuk pertama ke Jakarta sebesar US$ 1 miliar. Intinya mereka mengapa tertarik ke kita? (DKI Jakarta) karena mereka kita langsung tanya, butuhmu apa? lahan, berapa? 200 hektar saya kasih. Itu saja saya siapin. Lalu mereka datang yang kedua kali? yang sangat urgent berapa hektar? 20 hektar, saya siapin. Datang lagi mereka, ini yang mau dimulai berapa hektar dulu? 5 hektar, saya siapin itu saja," kata Jokowi ditemui usai menghadiri seminar di Universitas Siswa Bangsa International (USBI), Pancoran, Jakarta, Jumat (21/2/2014).

Jokowi mengungkapkan kini progres pembangunan pabrik pasca LoI beberapa pekan lalu, masih tahap proses tinjak lanjut. Pada April tahun ini pihak Foxconn sudah mulai melakukan desain pabrik dan melakukan Research and Development (R&D).

"Kemarin mereka sudah kirim tim, banyak ke sini dan April ini sudah mulai gambar, tempatnya gimana, dipakai untuk misalnya R&D-nya di mana, office-nya di mana, factory-nya di mana," ungkap Jokowi.
(rrd/hen)
http://finance.detik.com/read/2014/02/21/121351/2504559/1036/ini-cara-jokowi-bisa-tarik-foxconn-mau-bangun-pabrik-blackberry-di-jakarta


Wednesday, May 15, 2013

Tips Pemasaran Online dalam Bisnis UMKM

Salah satu faktor pendorong tumbuhnya bisnis baru, terutama bagi pebisnis Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) adalah karena pemanfaatan bisnis online semakin meningkat. Selain berbiaya rendah, juga dinilai efektif dalam menjangkau pelanggan baru. Efektifitas terjadi karena peningkatan layanan Internet, diikuti dengan makin maraknya pasar gadget Android yang semakin murah harganya dan bisa untuk berselancar di dunia maya dengan kecepatan tinggi.


Para wirausahawan di bidang UMKM pun menemukan cara-cara baru untuk membangun bisnisnya melalui konvergensi teknologi e-Commerce dengan jejaring social media. Pertumbuhan bisnis ritel online semakin bersinar dari tahun ke tahun, tercatat pada tahun 2003 belanja ritel online senilai USD 55,7 milyar dan pada tahun2007 berhasil menembus angka USD 125.1 milyar di Amerika Serikat. Indonesia dengan populasi 240 juta orang merupakan pasar yang potensialnya sangat besar bagi pertumbuhan UMKM, mengingat seperempat populasinya sudah terhubung melalui Internet dalam jejaring social media, seperti misalnya Facebook, Twitter, dsb. Bahkan saat ini ada pebisnis jual-beli online di Indonesia yang berhasil meraup omzet lebih dari Rp 1 Triliun per bulannya. Artinya, ke depan penerapan strategi pemasaran online untuk sektor UMKM menjadi semakin signifikan. Jika ingin sukses dalam bisnis UMKM dengan menerapkan strategi pemasaran online, berikut ini tips yang mungkin bisa dipergunakan.


Kenalilah dengan baik segmen pasar yang ingin dimasuki. Pertumbuhan UMKM saat ini di Indonesia yang terbesar pada sektor jasa perdagangan, perhotelan, restoran,  dsb. Walau skala bisnisnya mikro-kecil dan menengah,  namun segmen pasar UMKM bisa sangat bervariasi. Artinya, tidak hanya segmen bawah saja, namun juga bisa membidik segmen menengah dan atas. Sebagai contohnya, produk-produk gaya hidup fashion dan kerajinan tradisional berkualitas tinggi serta bisnis boutique hotel & cafĂ© dengan segmen gaya hidup menengah ke atas.


Pengelolaan sumber daya yang akurat. Secara umum bisnis UMKM tidak membutuhkan modal awal,  alokasi SDM dan investasi yang relatif besar. Perlu dicatat di masa mendatang pebisnis diharapkan mampu mendayagunakan keahliannya dengan dukungan sumber daya yang terbatas. Pengelolaan jejaring social media secara efektif dan efisien dapat untuk mempromosikan produk-produknya,serta mengantisipasi kemauan pasar yang cepat berubah.


Pilihlah teknologi social media yang paling cocok. Adanya teknologi Web 2.0 membuat pebisnis UMKM semakin dimudahkan dengan cara ‘etalase’ online, sehingga selain jangkauan menjadi lebih luas, pelanggan pun dapat langsung ngobrol dengan ‘penjaga toko’ online-nya, baik melalui e-mail, SMS, dan chatting. Pemilihan jenis social media harus disesuaikan kebutuhan, misalnya apakah pebisnis UMKM cukup membuat Fans Page Facebook guna membangun loyalitas pelanggan lama atau pun melakukan update promosi harga dengan cepat dan singkat melalui Twitter; semuanya disesuaikan dengan tipe informasi yang ingin disajikan kepada pelanggan. 


Membangun kepedulian terhadap komunitasnya. Trik pemasaran UMKM dapat memakai strategi word-of-mouth atau pemasaran sistem ‘getok-tular’ dimulai dari teman-teman,  kerabat sampai dengan komunitas sosial lainnya. Dalam hal ini, pebisnis dapat membentuk suatu komunitas dalam jejaring social media sesuai dengan profil atau segmen pasar yang dibidik. Tindakan dapat dilakukan melalui media Blog, di  mana para pelanggan dan pebisnis dapat saling berbagi informasi dan berdiskusi, membicarakan manfaat produk-produk yang ditawarkan.


Membangun profil bisnis UMKM seperti magnet. Dewasa ini banyak pebisnis memajang profilnya baik di Facebook, Twitter, Youtube, LinkedIn, dsb. Bila dicermati, belum banyak yang memiliki ‘daya magnet’ kuat, akibatnya pelanggan enggan mampir kembali mengunjungi situs online tersebut untuk  memberikan input positif bagi perusahaan. Dalam hal ini, branding produk yang kuat disertai keahlian dalam meng-explore kisah nyata bagaimana ‘meng-invent’ suatu produk atau jasa, menarik untuk diceritakan kembali dan menjadi bahan perbincangan.


Konten yang gampang diakses dan dibagikan. Beberapa trik sarana pengelolaan situs dapat dilakukan dengan memanfaatkan disain buttons, widgets, badges, RSS icon, karena secara psikologis pelanggan lebih menyukai konten yang user-friendly ketimbang konten yang nampaknya informasinya lengkap, tapi aksesnya bagi pelanggan dirasakan complicated. Selain itu, konten yang mudah di-share oleh pelanggan, secara tidak langsung merupakan sarana promosi efektif yang murah dan penting bagi bisnis UMKM.


Peliharalah hubungan erat dengan target market. Dalam konsep pemasaran UMKM, pemilihan target market yang tepat bersifat kritikal. Artinya bila salah pilih, dapat berakibat fatal bagi pencapaian target penjualan. Mempertahankan pelanggan pertama, menjadi bagian vital bagi kelangsungan bisnis UMKM, karena ujung-ujungnya pebisnis harus berhadapan dengan manusia yang ingin mencoba membeli produk, sebelum beralih menjadi pelanggan setia. Dalam hal ini diperlukan customer service yang terampil berkomunikasi dan bersahabat sebagai ujung tombak perusahaan.


Mengubah friends dan followers dalam jejaring social media menjadi pelanggan setia. Ada beberapa alasan bagi seseorang untuk add menjadi teman atau pengikut dalam jejaring social media. Ada yang meminta di-add karena benar-benar tertarik menggunakan jasa yang ditawarkan. Namun ada pula yang sekedar iseng atau ingin menawarkan jasalainnya, ataupun pesaing yang ingin memata-matai aktivitas bisnis. Penawaran membership program yang membedakannya dengan benefit yang diperoleh non-member bisa membuat pelanggan menjadi setia.


Memonitor dan mengukur tingkat kesuksesan sarana social media secara berkala. Perlu dicatat di sini bahwa social media merupakan salah satu sarana dalam kegiatan pemasaran. Sehingga keefektifan program-program yang ditawarkan perlu diukur, tidak hanya berdasarkan keberhasilan dalam menggaet dan meningkatkan jumlah member saja. Tetapi perlu juga diukur parameter lainnya, misalnya pencapaian target  penjualan dan kualitas feedback dari member dan pelanggan. Hasil pengukuran ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk menentukan langkah strategi pemasaran selanjutnya.

(Dimuat dalam Harian Bisnis Indonesia, 15 Mei 2013)

Saturday, July 14, 2012

Menunggangi atau Menciptakan Gelombang?

Apalah artinya sebuah lambaian? Dengan sebuah lambaian saja, seseorang mampu menghentikan secara mendadak sebuah bus kota ataupun taksi yang tengah berpacu dalam kompetisi rimba bisnis jalan raya. Di era digitalisasi ini, dimana hampir setiap orang membawa sebuah atau lebih dari satu gadget di tangannya, lambaian pun bisa memberikan nilai tambah bagi para pebisnis yang bertarung di kancah kompetisi kualitas layanan. Bagaimanakah hal ini mungkin terjadi?

Beberapa bulan terakhir ini masyarakat telah banyak mendengar baik dari surat kabar, televisi maupun on-line media, pemberitaan maraknya aksi kejahatan yang menyasar pada beberapa gerai minimarket, baik di Jakarta maupun di daerah. Maraknya aksi kejahatan ini justru seiring dengan meningkatnya pembukaaan ritel minimarket-minimarket baru yang beroperasi 24 jam yang kini mulai menjadi bagian dari lifestyle kehidupan kota-kota besar, menunjukkan terjadinya perubahan perilaku atau pola belanja masyarakatnya. Modus kejahatan yang biasanya menjadi sasaran utama adalah uang tunai yang dikuras dari brankas kasir dengan total kerugian materi sekitar Rp 390 juta dari 19 kasus perampokan sejumlah minimarket di Jakarta dan sekitarnya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh tim litbang Kompas, aktivitas jual-beli di minimarket memang semakin ramai seiring dengan datangnya malam. Sebanyak dua dari tiga responden (67,4 persen) biasa berbelanja ke minimarket pada sore hari atau pukul 16.00 – 00.00 terutama di lokasi wilayah pemukiman yang aktivitas warganya relatif dinamis, misalnya kompleks bisnis, mall dan apartemen.

Biasanya gerai ritel moderen 24 jam diperlengkapi dengan sistem pengamanan, dengan kamera CCTV plus penjagaan petugas, namun demikian masih banyak gerai-gerai yang belum memenuhi persyaratan keamanan yang memadai dengan alasan pertimbangan membengkaknya biaya operasional yang harus dikeluarkan demi meningkatkan customer experience dalam hal kenyamanan dan keamanan berbelanja. Bahkan di beberapa gerai ritel moderen, tidak sedikit dijumpai mesin in-store ATM yang selain digunakan oleh pembeli untuk mengambil uang tunai, juga untuk melakukan transaksi keuangan non-tunai lainnya dengan waktu beroperasi 24 jam. Hal ini bisa berpotensi menjadi sasaran kejahatan selanjutnya.

Di akhir sebuah presentasi seminar yang dibawakan seorang CEO BUMN telekomunikasi, ada perkataan yang menginspirasi kami: Are you riding the wave or are you creating the wave? Kata wave dalam bahasa Inggris bisa berarti gelombang ataupun lambaian. Lambaian seseorang yang sedang menggenggam sebuah smartphone mungkin bisa dijadikan solusi alternatif bagi peningkatan keamanan dan kenyamanan berbelanja, tidak hanya bagi si pembeli saja namun juga bagi si penjual. Pembeli cukup melambaikan smartphone-nya di depan alat baca elektronik untuk membeli belanjaan yang diinginkannya. Transaksi pembayaran pun terjadi setelah pembeli memasukkan sandi keamanan tertentu ke dalam alat bayar yang disediakan oleh pemilik gerai minimarket sebagaimana penggunaan kartu debet. Sangat praktis bagi pembeli dan penjual pun tak perlu menyimpan uang tunai kembalian terlalu banyak ataupun dipusingkan dengan hal-hal yang terkait pengelolaan cash management.

Transaksi pembayaran sistem elektronik non-tunai dengan sistem melambai tersebut dapat dilakukan menggunakan gadget yang sudah dilengkapi dengan teknologi NFC (Near Feld Communication). Teknologi ini sendiri merupakan pengembangan teknologi berbasis RFID yang memampukan gadget dapat berkomunikasi dengan reader alat pembayaran elektronik si pemilik gerai. Beberapa perusahan raksasa pengembang gadget seperti misalnya: Nokia, Motorola, Apple dan Google pun berlomba-lomba mengembangkan teknologi ini di dalam perangkatnya untuk meningkatkan customer value bagi pemasaran produknya. Tidak hanya mereka saja, perusahaan jasa keuangan dan carriers seperti misalnya Visa, Mastercard, JPMorgan Chase, Verizon, AT&T, T-Mobile, NTT DOCOMO pun turut berkolaborasi dengan para pengembang smartphone dalam mendorong transaksi pembayaran berteknologi NFC ini. Menurut Forrester Research, dikatakan bahwa industri perbankan ritel di Amerika saat ini mengalokasikan sepertiga investasi anggaran digital-nya di bidang transaksi berbasis mobile. Suatu jumlah anggaran yang tidak kecil. Di masa mendatang banyak peluang pemanfaatan teknologi NFC tercipta sebagai alternatif pembayaran non-tunai untuk kepentingan publik dan industri kreatif mobile commerce, seperti misalnya: pembelian tiket kereta api, busway, bayar parkir, nonton bioskop, hingga ngopi, dst sampai dengan transaksi di sektor UKM dan microfinance. Peran dompet sebagai penyimpan uang tunai dan uang plastik pun perlahan bergeser seiring perkembangan teknologi dompet digital ini. Sehingga dompet akan berfungsi sebagai tempat penyimpanan kartu identitas KTP/SIM dan gadget. Momentum peluang pun akan tiba seiring dengan berlalunya waktu. Will you be ready in riding or creating the wave? 

(Dimuat dalam Majalah Fortune Indonesia Vol.41, Juli 2012)

Saturday, January 28, 2012

Kunjungan dari PT. INTI



Pencerahan ICT untuk Generasi Muda dari PT. INTI



Pada tanggal 11 Januari 2012 yang lalu, Sampoerna School of Business Jakarta beruntung mendapat kesempatan berharga dari kunjungan seorang Pak Irfan Setiaputra, blogger sekaligus CEO PT. INTI. Dalam rangka mensukseskan program INSYNCH 2014 + TIME, PT. INTI bersinergi dengan PT. TELKOM dengan peremajaan infrastruktur berbasis MSAN (Multi-Service Access Node), GPON (Gigabit Passive Optical Network) dan FO (Fiber Optic) Systems. Diharapkan pula dengan sinergi ini, transfer tekonologi, penyerapan pasar tenaga kerja dan ecogreen dengan pola kemitraan TITO (Trade In Trade Off) dapat terwujud. Bravo PT. INTI!

Sunday, December 4, 2011

Dinamika Strategi Media Sosial Korporasi

Menganalogikan perkembangan hidup manusia, usia Facebook dan Twitter saat ini baru menapaki usia kanak-kanak dan balita, yaitu tujuh dan lima tahun, namun jejaring social media tersebut tumbuh besar demikian fantastisnya. Tidak saja diminati di kalangan generasi millennials, namun juga sampai dengan sebagian generasi baby-boomers. Menyikapi fenomena pasar ini, para penyedia perangkat smartphone dan operator jaringan seluler pun berlomba memberi nilai tambah produknya dengan menawarkan berbagai macam fitur konektivitas ke berbagai penyedia jejaring social media.

Menurut data statistik, jumlah pengguna aktif Facebook di dunia terbesar saat ini adalah di Amerika Serikat, yaitu 150 juta users dan diperkirakan terus meningkat, bahkan Indonesia pun menempati posisi kedua setelah Amerika Serikat, yaitu 38 juta users. Bahkan Facebook sebagai penyedia jejaring social media terbesar di dunia saat ini berani memposisikan diri sebagai pemain global layanan “social e-commerce” di tahun-tahun mendatang. Melalui social e-commerce perusahaan tidak hanya bisa mempromosikan iklan barang atau jasa saja, produsen dan calon konsumen dengan mudah melakukan transaksi bisnis melalui media elektronik atau internet. Juga bukan hanya sebagai search engine yang mempermudah calon pembeli menemukan suatu iklan produk. Tetapi bisa sekaligus melakukan fungsi keduanya, bahkan mungkin lebih dari itu. Bagaimana implikasinya terhadap perubahan strategi korporasi?

Dalam suatu implementasi program strategi pemasaran, pemanfaatan jejaring social media seperti mis: Facebook dan YouTube oleh suatu perusahaan bukan barang baru. Selain melakukan promosi produk dan perusahaannya di situs-situs social media, perusahaan-perusahaan yang meng-adop teknologi social media mulai memanfaatkannya juga sebagai media yang cukup efektif dan efisien untuk melakukan riset pasar, mendapatkan feedback dari customer sebagaimana dalam fungsi customer service, serta melakukan test pasar untuk pengembangan produk baru.

Selain social media eksternal, perusahaan-perusahaan teknologi kelas global seperti misalnya: Cisco dan EMC yang beroperasi di seluruh dunia juga mengembangkan platform teknologi social media secara internal. Manfaat langsung yang diperoleh dari penerapan social media internal ini adalah optimalisasi unsur-unsur value chain korporasi.

Contohnya, perusahaan raksasa teknologi informasi EMC yang memiliki total 40,000 karyawan globalnya menggunakan test platform EMC/ONE untuk menghubungkan berbagai macam keahlian untuk mengerjakan proyek-proyeknya sehingga mampu mengurangi biaya mempekerjakan kontraktor eksternal. Di tahun 2010, Cisco meluncurkan platform social business-nya Integrated Workforce Experience (IWE) untuk memfasilitasi kolaborasi internal dan eksternal dan pengambilan keputusan secara desentralisasi dengan fitur yang menyerupai “wall updates” pada situs Facebook.

Menyikapi fenomena tersebut, para pucuk pimpinan perusahaan perlu mengkaji ulang strategi jangka panjang penerapan social media baik eksternal maupun internal mengingat social media semacam Facebook dan Twitter baru berumur tujuh dan lima tahun saja. Secara umum produk-produk teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini memiliki siklus hidup yang relatif cepat dan memungkinkannya untuk ber-evolusi, sebagaimana social media ber-evolusi menjadi semacam social e-commerce, dst. Di lain pihak, platform teknologi social media internal pun juga ikut berkembang dan ber-evolusi, sehingga perusahaan dengan skala lebih kecil yang dahulunya hanya melakukan pendekatan eksperimental, secara bertahap perlu men-transformasi-kan strategi social media–nya. Tantangannya pun selalu ada, yaitu perlunya iklim perubahan dalam perusahaan, seperti misalnya: incentive systems, business process, resource management danleadership style. Siapkah perusahaan Anda menghadapi dinamika strategi social media ini? 


(Dimuat dalam Majalah Fortune Indonesia, Vol.24, Nopember 2011)

Saturday, November 1, 2008

The Matrix: Always Connected, or Die!

When we are talking about the internet world, it is impossible to miss out The Matrix trilogy. This film is dissecting technical things and cyber-world philosophy. This trilogy was directed by the two brothers of Larry and Andy Wachowski and has becoming a cult film for its geeks like hackers and cyberpunk.

This science-fiction stories is a bit complex, in general the superhero is Neo or “The One”, who was starred by Keanu Reeves. He is hardly fighting against his enemies, whether they are machines, human and mainly virtual human. In facing his enemies, Neo should be on-and-off entering the real world and virtual world.

These real world and virtual world in this film is pictured in parallel life. If they want to enter the virtual world, Neo and his partners should be connected to the machines through their brains. But if they are in the virtual world and want to back to the real world, they have to pickup the telephone call from a friend on the real world.

When these heroes are in the real world, their physical body is still in the real world (which is connected to that machines), but their spirit is in the virtual world. Though their worlds are separated, the physical body and the spirit is actually still be united. If the spirit is wounded in fighting against the enemies in the virtual world or even die, the physical body can also be wounded or die. And in other hand, if the physical body is unplugged from that machine, the spirit will also die.

The Matrix can give inspiration that in this new wave marketing era, the connection between virtual world (online) and real world (offline) should be without interruption or even totally dropped, always-on connection. This connection shall also be a mobile connection, not fixed connection anymore. Therefore mobile connector is needed in-order easier us to access the changes happened in the business landscapes.

This mobile connector can be a cellular telephone, laptop, smart-phone or other devices that enable people to do online connection in wireless mode, for instance Kindle device from Amazone.com.

Nowadays more people are becoming road warrior. Work location is no longer limited in the offices, but can be at home, cafes, client premises, or even while we are on the car.

This is also driven by technology advancement that enables mobile connector devices more conveniently used. Laptop is getting lighter and its battery life is getting longer. Smartphone is also easier to be used and its features are already supported for internet access. In short, from the point of view of supply and demand of this mobile connector is already supporting each other.

Based on its offering, the mobile connector can be categorized into three types: Ad-based, Content-based, and Reward-based. Ad-based is any kind of advertisements offered through our mobile connector. The forms can be text like SMS, pictures, photos, or videos.

However, quoting from Seth Godin, it should be a permission marketing, not only interruption marketing. The incoming ads to the cellular phones or to the laptop when we are online, as much as possible will not annoying but should be benefits for the user.

This kind of thing has been practiced by Virgin Mobile in the US since last 2007. This cellular telephone is offering user to choose whether receiving SMS ads or see 45 sec video ads when they are browsing the internet over the cell-phone. As the reward, they will get 1 minute free talk-time. And those who are willing to participate online questionnaire will get addition 5 minutes free talk-time.

Content-based is a service that offering content to user. For instance the most popular one is ring back tone. Or in iPhone, this would be applications like iLighter that can displayed the flames like lighter to be waved during to music concert or Koi Pond showing the Koi fishes moving in the pond.

Reward-based is the services that can give reward, not only to customers but also to merchants for a rebate or point-reward accumulation. MORE (Mobile Rewards Exchange) program of Mr. Kendro Hendra’s inTouch is the real example for this reward-based.

This mobile connector has been one of the important elements in this new wave landscape. Mobile connector as part of Connectors will be more enable companies to access the other three elements: Change, Competitor and Customer.

By Hermawan Kartajaya @ Kompas.Com - 2008/10/08

Wednesday, November 21, 2007

When Disruptive Meets Innovation

The words of “disruptive” and “innovation” have different individual meanings. The “disruptive” is associated to negative meanings meanwhile the “innovation” is normally associated to more positive meanings. When they are mixed together, still having a paradoxical meaning as a so-called “Disruptive Innovation”.

Taken the definition from Wikipedia, the Disruptive Innovation is a technological innovation, product, or service that eventually overturns the existing dominant technology or status quo product in the market.

In terms of its target market, there are two kinds of Disruptive Innovation; they are aiming to 1). Lower-End Market and 2). New-Market. The Lower-End Disruptive Innovation is aimed at mainstream customers who were ignored by established companies. While a New-Market Disruptive Innovation is often aimed at non-consumption.

The disruptive technology is expected to dominate existing market by: 1). Filling a role that the older technology could not fill, or 2). Successively moving up-market through performance improvements until finally displacing the market incumbents.

Some market analysts believe that the challenge in grabbing wider (lower-end) market or new market can be reached through this Disruptive Innovation. In the developed country like Indonesia, the wider market comes from the middle-lower market segment as illustrated as the bigger middle-bottom pie of pyramidal shape. In this case the positive meanings of this Disruptive Innovation shall be enjoyed by customer/public. Meanwhile paradoxically it shall have more negative meanings for market incumbents.

As of lower investment and fast deployment for network infrastructure expansion, Telkom was introducing Telkom Flexi as fixed-wireless access (FWA) using CDMA-based technology platform. This strategy is believed as one option to catch-up the lagging of Indonesian telecommunication density amongst ASEAN countries. And this technology then was followed by Indosat StarOne which in-parallel is also become the second-positioned market incumbent of cellular. And when Mobile-8 Fren and Bakrie Telecom Esia came in-to the telecommunication market, this was the beginning of market disruption which changes the competitive landscape of both cellular/full- mobility and fixed-wireless providers.

If the market overturns of disruptive innovation strategy can not be achieved by new comers, eventually it could sacrifice the market with the intense unfair marketing campaigns/promises or delivering low quality of products and services. This phenomenon might be the major key driven of the growing demand of low-cost products and services. Unfortunately low quality products and services may only works for voice-based communication as haircut strategy to initiate the market share, but for further data/video streaming applications that need higher QoS (Quality of Service) it seems can no longer be maintained.

Friday, November 16, 2007

Next Generation Network (NGN) – Grabbing the Wider Market

One of the Japanese telecommunication giant makers claims that NGN concept is a win-win solution in-order to match the interests amongst public, telecommunication players and the government. Technologically it will have innovative solutions for existing Fixed Line and Wireless (GSM/CDMA/3G) migration which able to deliver Triple Plays as well as Fixed Mobile Convergence Solutions.

Some European world-wide telecommunication makers are also believing that the next billions broadband telecommunication market shall be occupied by those who are in the lower income as illustrated in the pyramidal shape.

NGN is an IP (Internet Protocol)-based of multi-service platform capable of any traffic type and services which able to support telephony, mobile, internet and broadcasting services. At the end this NGN solution shall change the competitive landscape in telecommunication industry.

In social aspects, according to ITU-T (International Telecommunication Union Standardization), NGN shall promote fair competition, equality of opportunity to the citizen, diversities; its capability to meet various regulatory requirements, recognizing the necessity of worldwide cooperation with particular attention to less developed countries. It is also expected to reduce or lower the capital expenditure (CAPEX) and operational expenditure (OPEX).

Indonesia consists of scattered islands which and need lower cost of rural telecommunication solution to overcome the reach of affordable connectivity of less income population. Commercially this NGN platform is feasible and even may bring more profit for telecommunication industry because it enables the possible migration and interoperatibility amongst their existing networks.

Thursday, November 15, 2007

WiMAX – Indonesia Market Perspective

WiMAX (Worldwide Interoperatibility for Microwave Access) is a new telecommunication technology standard that currently being put into debate amongst public, industry players and regulator. Some rumors said that once this technology will be deployed, it will effect to 3G (Third Generation) incumbent player’s investment and business since this technology is being told as equal to 3.5G. However the WiMAX technology can not be compared to 3/3.5G standard but Wi-Fi (Wireless Fidelity) standard.

Compared to WiMAX, Wi-Fi hotspot is having limited signal of coverage area with maximum 4-6 miles in radius, depends upon the antenna type used. This Wi-Fi hotspot can be easily found as value added services given by some modern lifestyle areas such as restaurants, cafes, education, malls, etc in-order to strengthen its customer loyalty and increasing profit.

What actually WiMAX is?


WiMAX is a technology standard that enables the interoperatibility amongst devices included in the category IEEE (
Institute of Electrical and Electronics Engineers) 802.16. The word of “WiMAX” is created in-order it is easier to be understood by public in replacing more technical IEEE 802.16 term. WiMAX as the standard for broadband wireless access may have larger coverage and as an alternative solution for broadband connectivity of cable and DSL (Direct Subscriber Line).

The interoperatibility of WiMAX. How?

WiMAX is working like normal microwave radio propagation with claimed coverage area up to 3,000 square miles (approximately 7,700 square kilometers). Besides radio microwave access, WiMAX tower station can make direct connection to internet through high bandwidth telephone cable network. Another advantage of WiMAX is that its Non-Line-Of-Sight capability which enables it to have interoperatibility with Wi-Fi networks at lower frequency of 2 - 11 GHz. This short wave transmission is having good capability to overcome physical obstacles, such as building walls or other obstacle things that may block radio wave propagation.

Another rumor is regarding the ambiguity of unproven reliability of Wi-MAX as still there is few success stories in the market and immature technology development, meanwhile the spectrum allocation regulation is yet to be finalized by the Indonesia government. Therefore the government had two times held public consultations in-order to make more fair and clear direction on the band migration and determination for new broadband wireless connectivity spectrum allocation.

The current investment cost of WiMAX is being perceived by market as still “higher”. LTE (Long Term Evolution) is being told as the new equal 4G technology that might shift the role of this WiMAX technology. Anyway through WiMAX we may soon entering the revolutionary internet wireless broadband connectivity via our mobile phone, whereby Indonesia is one of the biggest potential market countries on the planet of earth. Affordable WiMAX mobile handset manufacturer shall be the one who will enjoy this mass market opportunity. So get ready everybody!